Tampilkan postingan dengan label short-stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short-stories. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Januari 2014

Bersembunyi dari Nyata

I'd take another chance
Take a fall, take a shot for you
***
Bunyi langkah-langkah kaki terdengar menggema dari koridor itu. Diikuti dengan dengusan nafas frustasi yang berasal dari seseorang yang sedang mengejar langkah-langkah tersebut. Aku tak sanggup untuk mengejar langkah-langkah besarnya lagi.

"Raffa, tunggu." kataku dengan nafas tersengal.


Untunglah kali ini Raffa mau berhenti walau aku tahu, akulah orang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini.


"Aku mau minta maaf, oke?"

"Aku nggak butuh Fay" balas Raffa dingin.
"Aku minta maaf kalau menurut kamu, keberadaanku menganggu kehidupan kamu dengannya. Tapi siapa yang pertama salah disini, Raffa? Apa salah temanmu satu ini ingin tahu bagaimana kehidupan dengan dia?" kataku dengan emosi tertahan. Aku tahu, bukan aku yang memulai ini semua, tapi kelakuakn Raffa terhadap Lisa yang membuatku jengkel dan tanpa sadar menyalahkan semuanya kepada Raffa.

Raffa hanya menatapku dengan dingin tanpa berkata apa-apa. Detik demi detik terlewatkan. Hanya kesunyian yang menjadi teman kita. Aku sudah tidak sabar dan ingin berkata lagi, namun seketika itu, Raffa membuka mulutnya.


"Nggak usah ikut campur, Faya."


Hanya 5 kata yang terdengar. Dan itu membuatku semakin jengkel karena dia tak kunjung memaafkanku.


"Gimana mau nggak ikut campur kalau yang kamu lakuin ini semuanya salah, Raffa? Nggak kasihan, ngeliat Lisa tiap hari merenungi kamu terus? Jangan sekali-kali mempermainkan hati perempuan, Fa."


Derap langkah kaki terdengar lagi--dan itu berasal dari kakiku sendiri. Aku sudah tidak bisa berada dalam satu tempat bersama Raffa atau lama-lama aku bisa memukulnya, bila mungkin.





Raffa hanya merenung mendengar kata-kata Faya. Ia kesal dengan Faya yang sudah seenaknya menasehati dan ikut campur dalam kehidupannya dengan Lisa. Namun, semakin Faya ingin meminta maaf, semakin terlihat bahwa yang salah sebenarnya adalah Raffa. Kata-kata itu tepat seperti pisau yang menusuk jantungnya.


Apa yang sudah kulakukan?


Selalu. Selalu Faya yang salah bagi Raffa. Dia dibutakan oleh permainan sejenak yang membuatnya bersembunyi dari kenyataan. Kenyataan dimana dia telah menyakiti perempuan yang selalu sabar menunggunya.


Sial. Faya benar.





Senin, 15 Juli 2013

Konferensi Meja Kotak

Kepada Kalian, Otak dibalik Konferensi Meja Kotak
Sudah 6 tahun berlalu sejak kejadian itu.
Konferensi yang didirikan oleh 4 orang—yang menamakan dirinya Seokarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin dan Achmad Soebarjo. Konferensi yang hanya diadakan di atas kursi masing-masing dan sebuah meja di hadapan kami, di deretan belakang barisan paling ujung. Konferensi yang hanya dilaksanakan di sebuah Sekolah Dasar.
Pak Karno, Pak Hatta dan Pak Yamin, bagaimana saya bisa lupa kejadian itu? Anak-anak berjumlah 4 orang yang masih berseragam putih-merah, melakukan diskusi di barisan belakang itu. Ah, saya juga lupa apa yang kita diskusikan waktu itu. Naruto kah? Karena waktu itu Pak Karno dan Pak Yamin sedang senang sekali dengan Naruto. Atau mungkin ada yang lain? Hingga akhirnya salah satu dari kita mencetuskan “Ah, ini Konferensi Meja Kotak!”.
Mungkin kita memang menyukai sejarah. Hingga akhirnya kita menggebu-gebu untuk mencetuskan ide ini. Hingga akhirnya kita hafal tokoh-tokoh proklamasi. Ide bagus bukan? Bermain untuk belajar? Dasar kalian anak kreatif waktu itu.
Mungkin kita memang suka bercerita. Saling mencetuskan ide tanpa tahu arah bicara akhirnya ke mana. Kita anak-anak lugu waktu itu. Saya merindukan masa-masa ini.
Pak Karno, Pak Hatta dan Pak Yamin, kita sekarang hidup di jaman 6 tahun setelah kejadian itu. Saya harap, kalian tidak melupakan sejarah. Mungkin kita harus mengadakan Konferensi Meja Kotak 2? Untuk membahas Naruto lagi? Atau mungkin membahas yang lain karena kita sudah lebih dewasa sekarang.
Surat ini singkat. Tapi mampu mengangkat memori kalian tentang Konferensi Meja Kotak bukan?

Salam,

Achmad Soebarjo

P.S Teruntuk Alya (sebagai Pak Hatta), Reihan (sebagai Pak Yamin) dan Ardi (sebagai Pak Karno), anak-anak nakal nan kreatif nan pintar. Kita membuat sejarah!

Minggu, 12 Mei 2013

Kepadamu, Si Kelabu

Halaman kampus ITB pada siang hari memang padat. Mahasiswa dan mahasiswi sibuk mencari tempat duduk di bawah rindangnya pohon agar terlindungi dari panasnya matahari. Motor-motor dan mobil yang terparkir menambah ramainya halaman kampus ini. Namun, aku tetap berusaha untuk melewati kerumunan manusia ini untuk bisa mendapat tempat duduk agar aku bisa dengan cepat menyelesaikan tugas dari dosen.

"BRUK", aku pun menabrak salah seorang mahasiswa. "Maaf", lanjutku. 

Aku pun melanjutkan pencarianku untuk sebuah bangku yang kosong. Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah bangku kosong di bawah pohon yang cukup rindang. Aku pun langsung duduk di situ dengan maksud agar mahasiswa-mahasiswi lain tidak ada yang duduk di situ. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah surat tergeletak di samping tempat duduku. Aku pun meraih surat tersebut dan membacanya, walau pada awalnya aku tidak yakin kepada siapa surat itu tertuju. 

Sebuah kalimat tertera pada surat itu:
Kepadamu, Si Kelabu

Kalimat itu terkesan tidak asing untukku, dan seketika aku yakin bahwa surat itu tertuju padaku

Kepadamu, Si Kelabu
Isn't it lovely? Wake up in the morning and then fall in love with same person again and again for the rest of your life?
-Sadgenic, pages 20

Aku merasa sebuah palu telah memukulku, tepat di hatiku. Aku pun melihat ke sekeliling untuk mencari si pengirim surat tersebut-walau aku tahu siapa yang mengirimnya. Kulipat surat itu dan kumasukkan dalam tas. Aku pun merenung untuk beberapa saat, memahami kata-kata dalam surat tersebut. 

Kamis, 20 Desember 2012

Apa Itu?

24 September 2012

Aku tahu sekali hari apa ini. Yah, hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh semua orang karena akhirnya umur mereka bertambah satu tahun. Sesungguhnya, aku tidak menunggu hari ini, karena itu berarti aku akan bertambah tua. Namun, kebahagiaan yang berasal dari teman-temanku itulah yang aku tunggu.

Sebagai cewek normal--yang menyukai laki-laki, jelas aku mengharapkan dia, setidaknya mengucapkan 'selamat ulang tahun' kepadaku. Hingga akhirnya, kutunggu tiba saat itu.

Menghabiskan hari ulang tahunmu memang menyenangkan. Mentraktir teman, mengobrol sampai akhirnya diusir dan tertawa menertawakan hal-hal bodoh. Yah, memang menyenangkan walaupun besok ada ujian yang akan berlangsung. Selama kalian bersama teman-teman memang menyenangkan.



1 hari pun berlalu

Aku masih menunggu ucapan darinya walaupun kadang merasa 'ah nggak mungkin'. Tapi, yang kutahu adalah teman-temannya saja mengucapkan ketika mereka bersama dia. Menyedihkan emang.

Malam pun tiba. Aku menyempatkan diri untuk online sebentar untuk melihat-lihat apa yang baru saja terjadi. Dan kulihat 1 post baru, miliknya, yang berisikan ucapan 'selamat ulang tahun'--untuk temanku yang berulang tahun 1 hari setelah ulang tahunku.

Senyum sinispun menghiasi mukaku. Apa itu ulang tahun?

Sabtu, 20 Oktober 2012

#CeritaMiniWithYou Project

Cerpen ini ditujukan untuk #CeritaMiniWithYou oleh Orizuka dan Christian Simamora bersama Gagas Media.

--------------------------------------------------------------------------------
Aku Percaya

“Hai.”

Aku pun menengok ke sumber suara dan kulihat dia sedang disana, berdiri dengan senyum khasnya.  Warna rona merah pun menghiasi pipiku.

“Oh, hai. Ngapain lo kesini?” tanyaku.

“Gue cuma mau ngebantuin, ga boleh?” Dia pun segera menghampiriku yang masih lengkap dengan jersey biru dan celana putih. Aku menyetujui tawarannya karena memang aku membutuhkannya disini—untuk mengajariku.

“Elo bagus jadi pitcher. Besok main ya? Gue yakin elo bisa.”

Aku sempat ragu akan kata-katanya. Namun, senyum khasnya meyakinkanku.

“Makasih.” kataku.

“Buat?” balasnya bingung.

“Relain hari bebas lo buat ngajarin gue.”

“Gapapa, gue percaya lo bakal menang.”  balasnya ringan.

Dan aku percaya.