Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2016

The Universe of Us

Haallooooo~!
Akhirnya bisa membuat postingan blog lagi setelah berbulan-bulan sibuk urusan jurusan ditambah kemarin adalah minggu-minggu UTS huhu. Sejak dulu gue sudah mulai menyukai puisi-puisi karya Lang Leav (tapi belum sempat mampu untuk membelinya hiks). Kemudian, di suatu hari gue tau kalau Lang Leav bakal menerbitkan buku baru, akhirnya gue cari buku apa yang akan dirilis selanjutnya dan didapatlah sebuah buku dengan judul yang sangat menarik--The Universe of Us. Sejak tau kalau buku yang akan dirilisnya memiliki judul seperti itu, gue pun berencana untuk menabung dan membelinya jika sudah rilis nanti. Dan......akhirnya setelah penantian cukup lama (bahkan sampai lupa kalau bukunya udah terbit),  the book is in my hand now!


Cukup kaget awalnya ketika tahu kalau covernya bakal berwarna pink (karena yang sebelumnya berwarna biru tua dan merah dan gue tidak terlalu suka warna pink ehehe), tapi tetap tidak mengurangi perasaan ingin memiliki buku tersebut. Haha. 

Mari kita intip isinya sekarang:


Seperti buku-buku sebelumnya, selalu ada ilustrasi gambar dalam buku-buku Lang Leav dan yang gue suka adalah format penulisan puisinya hehe.




That quotes tho

Senang sekali akhirnya bisa memiliki bukunya Lang Leav ehehe, setelah sebelumnya berjuang mencari di toko buku tapi ternyata belum masuk dan akhirnya memutuskan untuk beli online, dan tiba di waktu yang tepat! (ketika UTS tinggal satu lagi, yes). Sayang sekali untuk saat ini gue belum bisa membacanya penuh karena masih ada tuntutan pekerjaan di kampus huhu, but I really can't wait to read it!

Semoga kalian juga suka karya-karya Lang Leav :)

Minggu, 05 Juni 2016

B.e.r.u.b.a.h

People change.

Well, 2 kata itu udah cukup merepresentasikan apa yang akan gue tulis disini he. Jujur gue merasa telah sangat berubah dari gue yang 1 tahun lalu. Mungkin bisa terkesan cepat sekali ya cuma 1 tahun, tapi yah orang berubah dalam 1 detik saja bisa bukan? Mungkin sebagian orang masih belum merasakan perubahan gue karena I barely talk about this thing. Terutama yang belum ketemu gue lagi secara langsung setelah 1 tahun berlalu. 

Kalau boleh bilang, sebenernya gue rada merasa 'aneh' jika orang-orang masih menganggap gue seperti yang dulu. Oke, mungkin masih ada yang bingung kali ya yang dimaksud perubahan disini apa. Well, karena suatu kejadian, gue merasa sangat sampis saat masa-masa itu haha (beneran loh). Kalau diinget-inget, gue merasa yang kayak duh apaan dah gue yang dulu kek ga punya kerjaan. Kejadian tersebut cukup membuat gue merubah pandangan, hingga akhirnya gue menjadi setengah gue yang sekarang.

Banyaknya momen-momen yang terjadi selama setahun ini membuat gue bertemu dengan orang-orang yang membuat gue berpikir, apa aja sih yang telah gue lakuin selama ini. Dan kembali lagi, jika gue dihadapkan dengan pertanyaan 'apa aja yang telah dilakukan' pasti gue keinget kejadian sampis tersebut. Orang-orang tersebut berhasil merubah total pandangan gue terhadap rasa suka/naksir kepada orang lain. Jujur, gue sangat mengagumi orang-orang yang telah membantu merubah pandangan gue.

Oiya, satu hal lagi yang membuat orang-orang belum merasakan perubahan gue adalah karena gue masih belum berani menyatakan pandangan gue yang sekarang kepada teman-teman gue. Sedih memang karena gue sendiri masih takut untuk menyatakannya, padahal pandangan tersebut gue yakini benar.

Percayalah, hal-hal tersebut itu, somehow, terasa sangat fana ketika kalian sudah tidak merasakannya lagi. 
Semoga gue bisa lebih berani untuk memberitahukan tentang pandangan gue nantinya.
I really want to save you guys, but I don't know how.

Rabu, 15 Juli 2015

Yha.

"Marah nggak akan mengubah yang sudah terjadi, kan? Lagipula aku nggak mau direpotkan dengan perasaan seperti itu. Marah terhadap pilihan orang lain itu merepotkan, karena secara nggak langsung aku harus memikirkannya terus-menerus."

"Memikirkan bagaimana?"

"Ya, selama aku marah, aku harus terus memikirkan alasan yang membuatku marah kepadamu, kan? Itu bikin repot. Rasanya seperti membawa neraka kecil di pundak, dan aku harus membawanya kemana-mana setiap hari. Bagaimanapun, selingkuh itu pilihanmu, dan pilihanmu bukan urusanku."

-Kamu, Sabda Armandio

Kamu


Masa lalu adalah kepergian yang mutlak, tetapi sebagian orang tak bersedia melepaskannya. Mereka mencabut baterai jam dinding agar kapanpun memandangi jam itu, mereka akan menjumpai jarum di angka yang sama. Ingatan yang sama. Dunia yang sama.

-Sabda Armandio

Sabtu, 31 Januari 2015

Hai.

Ekhem.
Hai.

Ternyata tahun baru membawa cerita baru buatku. 
Jika sebelumnya hidupku selalu jelas antara hitam dan putih, kehadiranmu membuatku berada di tempat berwarna abu-abu,
Jika sebelumnya aku masih bisa tidur dengan lelap tanpa harus ada pikiran mengganggu, kehadiranmu membuatku tidur pun terasa sulit karena otakku memaksa untuk mengulang memori-memori itu.

Sial memang.
Tapi sial yang kusyukuri.

Jika sebelumnya cerita-ceritaku hanyalah cerita klasik tak bermakna, kehadiranmu mampu membuat ceritaku menjadi lebih menarik.
Jika sebelumnya aku tak diharapkan dalam masalah ini, kehadiranmu membuatku terlihat seperti yang paling paham dalam masalah ini.

Yah, kehadiranmu merubahku, sebenarnya.

Maafkan aku yang masih tak sanggup menatap matamu ketika berbicara, karena jika kulakukan, aku hanya ingin menaikkan bendera putih, tanda ku ingin menyerah saja.

because I can't hold this feeling. 

Selasa, 03 September 2013

Continue

Hai. Mari kita bahas masa sekarang.

Jika di sebelumnya aku bilang, aku tak muak, itu hanya karena aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ternyata,

Aku muak. 

Tidak sebegitu parah, aku masih bisa mengontrol diriku sendiri. Tak perlu khawatir. 
Layar yang terpampang di depan semakin membuatku gila. Itu frasa yang tepat untuk sekarang. Ah, jangan salah sangka. Gila disini ada yang bermaksud positif--juga.

Ada kalanya aku harus menahan nafas sejenak, memalingkan muka, bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertanda ya? Tapi kumohon, tidak usah mengartikan semua ini. Aku tidak.........ah otakku berkata 'mau'. Tapi, sudahlah, aku tidak mau.

Belakangan ini aku merasa menjadi penulis kreatif. Mencoret-coret kertas yang kebetulan terlihat olehku, buku-buku, kertas bekas dan masih ada lagi. Kamu tahu? Setiap melihat kamu, kata-kata ini semakin mendesak keluar. Terlalu banyak yang ingin aku tuliskan, tapi.....ah percuma.

Tiada yang tahu tentang ini. Aku masih merasa aman untuk saat ini.
Mari kita lihat kelanjutannya.

Minggu, 25 Agustus 2013

Rewind

Maafkan aku jika aku meracau. Lagi.

Bukan, ini bukan tentangmu. Ini hanya barisan kata-kata yang mengalir dari otakku dalam masa kebingungan, yang sialnya kata-kata ini sudah tidak tahan untuk keluar dari otakku dan memaksaku untuk menuliskan ini semua. Ini bukan dari hati, jujur saja. Ini semua dari otakku-ya, yang kerjanya ribet. Selalu.

Aku seperti terlempar ke 1 tahun lalu. Bukan, bukan kejadian yang sama. Hanya mirip--beda pemeran, beda latar, beda alur namun tema yang sangat identik. Tidak, aku tidak ingin memukul tembok. Aku juga tidak ingin menangis. Otakku sudah lebih baik sekarang. Aku hanya menatap datar atas layar yang terlentang di depanku. Yang memainkan segala sesuatu yang membuatku--hanya ingin menatapnya dengan datar.

Jangan salah kaprah kalau ini semua tentangmu. Sudah kukatakan, ini beda pemeran. Aku hanya dalam masa kebingungan. Aku--bisa dibilang sudah tidak tahu apalagi tentangmu. Jadi yang ini berbeda. Aku hanya bingung.

Kamu tau kelemahanku. Tidak usah kuumbar lagi. Dan sialnya, dia melakukan sesuatu yang menjadi kelemahanku. Bohong jika kubilang aku tidak tersentuh. Tersentuh, tapi sedikit. Sungguh. Aku tidak perlu lebih atau aku akan semakin terpuruk. Aku selalu menatap layar yang terbentang dihadapanku. Semakin hari aku semakin bingung atas apa yang dimainkan di layar tersebut. Mungkin, lebih baik jika ditinggalkan. Namun, otakku mengatakan untuk tidak menutup mata atas layar itu. Otakku ingin melihat kelanjutannya.

Aku tidak bisa berbuat jauh. Kau tahu? Ada yang menghalangi. Tidak, bukan satu. Tapi banyak. Bohong jika aku bilang tidak tertarik, tapi aku memang tidak ingin terpuruk. Mengerti?

Biarlah aku (sekali lagi) berada di belakang--seperti 1 tahun lalu. Tak apa. Aku sudah biasa menjadi penonton. Aku tak muak.