Sabtu, 14 Desember 2013

Bercermin Saja Pada Kaca Yang Retak

Dan, bukan maksudku, bukan ingin ku
Melukaimu sadarkah kau disini ku pun terluka?
--Sheila On 7

Baru kali ini aku menemukan yang begini
Kuretakkan semua kaca karena ulahmu
Berkali-kali ku berteriak pada semesta
Sadarkah kamu?

Huh sudahlah
Kutinggalkan bekasku karenamu pada cermin-cermin itu

Cobalah bercermin pada kaca yang retak
Apakah kau lihat aku terpecah?

Selasa, 03 September 2013

Continue

Hai. Mari kita bahas masa sekarang.

Jika di sebelumnya aku bilang, aku tak muak, itu hanya karena aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ternyata,

Aku muak. 

Tidak sebegitu parah, aku masih bisa mengontrol diriku sendiri. Tak perlu khawatir. 
Layar yang terpampang di depan semakin membuatku gila. Itu frasa yang tepat untuk sekarang. Ah, jangan salah sangka. Gila disini ada yang bermaksud positif--juga.

Ada kalanya aku harus menahan nafas sejenak, memalingkan muka, bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertanda ya? Tapi kumohon, tidak usah mengartikan semua ini. Aku tidak.........ah otakku berkata 'mau'. Tapi, sudahlah, aku tidak mau.

Belakangan ini aku merasa menjadi penulis kreatif. Mencoret-coret kertas yang kebetulan terlihat olehku, buku-buku, kertas bekas dan masih ada lagi. Kamu tahu? Setiap melihat kamu, kata-kata ini semakin mendesak keluar. Terlalu banyak yang ingin aku tuliskan, tapi.....ah percuma.

Tiada yang tahu tentang ini. Aku masih merasa aman untuk saat ini.
Mari kita lihat kelanjutannya.

Minggu, 25 Agustus 2013

Rewind

Maafkan aku jika aku meracau. Lagi.

Bukan, ini bukan tentangmu. Ini hanya barisan kata-kata yang mengalir dari otakku dalam masa kebingungan, yang sialnya kata-kata ini sudah tidak tahan untuk keluar dari otakku dan memaksaku untuk menuliskan ini semua. Ini bukan dari hati, jujur saja. Ini semua dari otakku-ya, yang kerjanya ribet. Selalu.

Aku seperti terlempar ke 1 tahun lalu. Bukan, bukan kejadian yang sama. Hanya mirip--beda pemeran, beda latar, beda alur namun tema yang sangat identik. Tidak, aku tidak ingin memukul tembok. Aku juga tidak ingin menangis. Otakku sudah lebih baik sekarang. Aku hanya menatap datar atas layar yang terlentang di depanku. Yang memainkan segala sesuatu yang membuatku--hanya ingin menatapnya dengan datar.

Jangan salah kaprah kalau ini semua tentangmu. Sudah kukatakan, ini beda pemeran. Aku hanya dalam masa kebingungan. Aku--bisa dibilang sudah tidak tahu apalagi tentangmu. Jadi yang ini berbeda. Aku hanya bingung.

Kamu tau kelemahanku. Tidak usah kuumbar lagi. Dan sialnya, dia melakukan sesuatu yang menjadi kelemahanku. Bohong jika kubilang aku tidak tersentuh. Tersentuh, tapi sedikit. Sungguh. Aku tidak perlu lebih atau aku akan semakin terpuruk. Aku selalu menatap layar yang terbentang dihadapanku. Semakin hari aku semakin bingung atas apa yang dimainkan di layar tersebut. Mungkin, lebih baik jika ditinggalkan. Namun, otakku mengatakan untuk tidak menutup mata atas layar itu. Otakku ingin melihat kelanjutannya.

Aku tidak bisa berbuat jauh. Kau tahu? Ada yang menghalangi. Tidak, bukan satu. Tapi banyak. Bohong jika aku bilang tidak tertarik, tapi aku memang tidak ingin terpuruk. Mengerti?

Biarlah aku (sekali lagi) berada di belakang--seperti 1 tahun lalu. Tak apa. Aku sudah biasa menjadi penonton. Aku tak muak. 

Sabtu, 24 Agustus 2013

Book Review: Evergreen by Prisca Primasari

Started on: 23 August 2013
Finished on: 25 August 2013
Rating: 5/5

Penerbit: Grasindo
Pengarang: Prisca Primasari
Tebal: 203 halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 36.550 (pengenbuku.net)

Konnichiwa! Selamat datang di EVERGREEN, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!

Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?

Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 14 Agustus 2013

Book Review: Pieces Of You by Tablo

Started on: 10 August 2013
Finished on: 14 August 2013
Rating: 4/5

Penerbit: Matahari
Pengarang: Tablo
Tebal: 229 halaman
Tahun Terbit: 2013
Tahun Pertama Terbit: January 2009
Harga: Rp 40.000,- (Gramedia)

-------------------------------------------------------------------

Rabu, 31 Juli 2013

Book Review: London: Angel by Windry Ramadhina

Started on: 29 July 2013
Finished on: 30 July 2013
Rating: 3.5/5

Penerbit: Gagas Media
Pengarang: Windry Ramadhina
Tahun Terbit: Juli 2013
Harga: Rp 52.000,- (Gramedia)

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel 'Orange', 'Memori' dan 'Montase', membawa kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengerjar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanan kali ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
Editor
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Oke, Teman-teman. Sudah kuputuskan. Aku akan mengejar Ning ke London!"
Cerita perjalanan seorang penulis bernama Gilang dimulai dari pengakuannya dalam keadaan mabuk yang akhirnya ditanggapi serius oleh teman-temannya. Gilang pun akhirnya berangkat ke London untuk mengejar Ning. Namun, pada saat Ia telah sampai di indekos milik Ning yang ada di London, Ia menemukan bahwa indekos tersebut kosong. Ia pun memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu, dan mulai mencarinya lagi esok hari.

Malam harinya, Gilang pergi ke London Eye atas anjuran dari seorang pelayan di penginapan tersebut. Di London Eye, gerimis mulai turun dan pada saat itu Gilang bertemu dengan seorang gadis berambut ikal keemasan dan berwajah cantik. Ia pun memberi sebutan Goldilocks. Ia menghabiskan waktu dengan gadis tersebut di London Eye, namun ketika hujan mereda, gadis tersebut menghilang.

Dia menatapku. "Tahukah kau apa yang turun bersama hujan?"
Aku menggeleng.
"Malaikat", kata lelaki itu.

Seiring berjalannya waktu, Gilang pun akhirnya bertemu dengan Ning. Sisa harinya di London pun dihabiskan bersama Ning. Mereka berjalan-jalan di London, dan mengunjungi beberapa galeri. Namun, siapa yang menyangka? Bahwa perjalanan mereka di galeri yang bernama The Piper, malah membuat Gilang semakin ragu untuk menyatakan cintanya.

Aku salah satunya, kalau saja Ning tahu. Dan, ya, ini tidak mudah. Berada begitu dekat dengan gadis yang kucintai, tetapi tidak bisa mendekapnya erat-erat sama sekali tidak mudah. Ini menyiksa dan menguras emosi. 
Apakah Gilang berhasil mendapatkan cinta Ning? Atau perjalanannya ke London malah sia-sia? Baca selengkapnya di London: Angel


My Review
Ini adalah novel karya Kak Windry kedua yang saya baca, setelah Montase. Saya cukup penasaran dengan yang edisi kali ini, karena sinopsisnya membuat saya tertarik dan pengarangnya adalah Kak Windry :)

Namun, lagi-lagi saya kurang sreg sama pemilihan kata-kata yang digunakan untuk sebuah cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama--laki-laki. Jika kata-kata yang digunakan lebih santai, mungkin akan lebih enak lagi untuk dibaca hehehe.

Saya suka pendeskripsian tempat yang dibawakan Kak Windry. Pendeskripsiannya jelas jadi membangkitkan imajinasi tentang tempat-tempat yang menjadi latar derita tersebut. 

Untuk cerita, saya kira awalnya ini adalah novel bergenre mainstream romance-- namun ternyata bukan dan itu membuat saya senang hahaha. Jujur, kisah Ning dan Gilang itu............rada flat (menurut saya) dan cukup sering ditemui. Namun saya senang karena endingnya unexpected! Saya suka endingnya hehehe.

3 bintang untuk keseluruhan cerita, dan 1/2 bintang untuk Goldilocks yang telah membuat saya penasaran banget hehehe

Good book!
by ainuathifah

Jumat, 19 Juli 2013

Book Review: The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka

Started on: July 18, 2013
Finished on: July 19, 2013
Rating: 5/5

Penerbit: Penerbit Haru
Pengarang: Orizuka
Tebal: 320 halaman
Tahun Terbit: Juli 2013
Harga: Rp 53.000,- (Gramedia)

Hai. Namaku Audy. Umurku 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai kedua orangtuaku jatuh bangkrut karena ditipu.

Aku hanya tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjanaku. Selangkah lagi!

Tapi kedua orangtuaku rupanya tega merukak momen itu. Jadi sekarang, disinilah aku berada. Di rumah aneh yang dihuni oleh 4 bersaudara yang sama anehnya: Regan, Romeo, Rex dan Rafael.

Aku, yang awalnya berpikir akan bekerja sebagai babysitter, dijebak oleh kontrak sepihak dan malah dijadikan pembantu!

Terdengar klise? 
Mungkin, bagimu. Bagiku? Musibah!
Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang mendadak jadi ribet. Kronik dari seorang Audy.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Novel ini menceritakan seorang perempuan yang bernama Audy Nagisa yang sedang mengejar gelar sarjana di Universitas Gajah Mada. Namun malangnya, orang tuanya terkena tipu sehingga ia tidak dapat membayar yang kos yang sudah menunggak selama 3 bulan itu. Audy pun mencari pekerjaan di koran, dan akhirnya menemukan seseorang yang membutuhkan babysitter.

Ia pun datang ke rumah orang yang menawarkan pekerjaan tersebut, namun siapa sangka? Rumah itu ternyata sangat tidak terawat. Audy sempat berpikir untuk tidak jadi melamar pekerjaan, namun pemilik rumah tersebut berhasil merekruit Audy sebagai babysitter/pembantu karena Audy terpesona oleh pemilik rumah tersebut.

Pemilik rumah tersebut adalah 4 cowok bersaudara yang memiliki karakter berbeda-beda; Regan (R1) adalah sosok yang nyaris sempurna namun perhitungan. Romeo (R2) adalah sosok pemalas, senang bermain dan paling ramah. Rex (R3) adalah sosok terpelajar yang seluruh hidupnya didedikasi untuk prestasi akademis, tapi tertutup dan sensitif. Rafael (R4) adalah sosok balita yang sangat dewasa. 

Audy awalnya merasa keberatan untuk menjadi pembantu di rumah tersebut, karena ia harus menjaga Rafael + melakukan pekerjaan rumah. Hingga suatu hari Audy diusir dari kos-kosannya karena tidak kunjung membayar kosan. Audy pun akhirnya tinggal di rumah 4R tersebut.

Karena orangtua mereka sudah meninggal akibat kecelakaan, Rafael--si anak bungsu mereka, berkepribadian yang berbeda dengan anak seusianya. 

Regan terlalu tegas, Romeo terlalu santai, sementara Rex terlalu dingin. Tidak ada yang bisa mendidik Rafael secara netral layaknya orangtua. Perlakuan mereka kepada Rafael yang berbeda-beda inilah yang mungkin membuat Rafael bingung dan akhirnya punya sifat sekarang ini.
Mau tahu bagaimana kelanjutan kisah Audy di rumah 4R ini? Baca selengkapnya di The Chronicles of Audy: 4R


image source: wehearit; edited by me

My Review
Bisa dibilang ini adalah novel Orizuka yang saya tunggu-tunggu karena sinopsisnya membuat saya penasaran dan desain covernya menarik!

Saya akan bahas dari masalah desain buku dulu. Seperti biasa, Penerbit Haru menampilkan novel dalam warna dan bentuk yang unik-unik (seperti buku Paper Romance karya Lia Indra A). Kali ini, desainya covernya berbau vintage gitu dan itu lucu hehehe. Saya juga suka warna kertas pinggir-pinggirnya berwarna pink, itu yang membuat buku ini semakin cute.

Cerita yang dibawakan Orizuka kali ini, bisa dibilang agak berbeda dengan novel-novel sebelumnya. Walau disini tokoh ceweknya (akhirnya) berhasil menyelesaikan masalah yang dialami oleh tokoh-tokoh cowok seperti di novel-novel sebelumnya. Namun, Orizuka berhasil membuat semua cerita itu terkesan berbeda walau rada mirip (dikit).

Saya suka konflik dan alur cerita disini. Semuanya dijelaskan dengan runtut dan rapih sehingga tidak membuat pusing para pembaca. Masalah-masalah yang terjadi pun saya suka, mulai dari rumah-rumah yang tidak dibereskan, Rafael masuk sekolah, Rex kambuh dsb. Saya suka kebersamaan 4 saudara itu ketika Audy datang ke rumah mereka.

Masalah tokoh. Saya suka semua tokoh hehehe, walau membayangkan gimana kalo 4 saudara itu beneran hidup di dunia nyata dan mereka semua ganteng (omg...........). Bisa dibilang, susah memilih salah satu dari 4 saudara itu, but I'll choose Rex! the genius one~! Penokohannya jelas sehingga bisa kelihatan karakter masing-masing dari 4R itu dan juga karakter Audy sendiri.

Saya penasaran dengan buku ke-2nya! Awalnya saya kira novel ini ya hanya satu novel, dan cerita pun kelar. Ternyata pada saat membuka halaman pertamanya, tertulis Book 1. Wah, saya penasaran banget sama cerita Audy dan 4R!

5 bintang untuk yang ini, karena mengangkat tema tentang keluarga! Dan juga di novel ini semuanya lengkap. Mulai dari unsur romance, komedi, sedih, senang dll, wah keren lah!

Recommended!

by ainuathifah