Minggu, 24 Desember 2017

Inisiatif

Setelah mengalami lika-liku kehidupan perkuliahan, ada satu hal yang baru kerasa banget kalau ternyata hal tersebut itu perlu, yaitu mengambil tindakan bersifat inisiatif.  Lingkungan kuliah yang kadang terasa agak individualis, membuat hal bersifat inisiatif itu jarang terjadi dan berakibat buruk. Ada beberapa kejadian yang saya rasakan sendiri, yang jika tidak ada salah satu teman saya yang berinisiatif untuk melakukan sesuatu, maka tidak akan terjadi apa-apa dan agak merugikan beberapa pihak.

Saya suka memerhatikan beberapa kejadian dan kadang saya merasa, orang-orang banyak yang tidak berinisiatif untuk melakukan sesuatu itu karena hal tersebut tidak menguntungkan mereka. Benar bukan? Saya harap saya salah. 

Hal tersebut merupakan salah satu ketakutan saya, bagaimana jika ke depannya tidak ada lagi orang yang mau berinisiatif untuk memulai sesuatu? Saya harap orang-orang akan lebih sadar bahwa mereka hidup tidak sendiri, tetapi bersinggungan dengan orang lain.

Semangat mengambil langkah untuk memulai!

Bandung, 25 Desember 2017
09:03
( ㅡ sebuah catatan untuk saya sendiri, dan siapapun yang membaca. Semangat!)

Selasa, 31 Oktober 2017

Book Review: Laut Bercerita by Leila S. Chudori

Mulai: 29 Oktober 2017
Selesai: 31 Oktober 2017
Rating: 4.5/5

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Pengarang: Leila S. Chudori
Tebal: 389 halaman
Tanggal terbit: 23 Oktober 2017

Jakarta, Maret 1998
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang Ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Senin, 11 September 2017

Sampai Kapan?

Semacam tidak peduli lagi apa yang sedang kamu pikirkan. Yang pasti, tindakan apapun yang kamu lakukan nantinya, pilihan apapun yang kamu pilih nantinya, itu akan mencerminkan kamu orang yang seperti apa.

Maaf jika terkesan judging, saya hanya mau kamu belajar. 

Bandung, 11 September 2017
22:37
(ㅡmau sampai kapan berlari terus?)

Minggu, 02 Juli 2017

Belajar Memaafkan

Memaafkan.
Hal tersebut--sepertinya--termasuk salah satu hal yang sulit dilakukan bagi sebagian orang. Bagi saya sendiri, memaafkan merupakan hal yang cukup mudah dilakukan, karena saya tipe orang yang tidak suka terlarut dalam permusuhan atau kesalahan terlalu lama. Demi menjalin hubungan yang baik kembali, memaafkan seseorang sering saya lakukan--baik secara langsung maupun tidak.

Namun kadang ada hal yang menganggu saya, apakah saya benar-benar memaafkan orang tersebut atau hanya sebatas formalitas saja? Saya baru menyadari hal ini ketika saya mengalami suatu kejadian yang cukup membuat saya jengkel, dan saya tetap meyakini diri saya bahwa saya sudah memaafkan orang tersebut. Hingga suatu hari saya membaca tulisan dari suatu media--dimana ketika kita tetap mengungkit permasalahan yang menyangkut seseorang, artinya kita belum benar-benar memaafkan orang tersebut. Saya cukup tertampar dengan tulisan tersebut. Selama ini saya keep saying to myself kalau saya sudah memaafkan orang tersebut, tapi ketika ada teman saya yang membahas orang tersebut, saya merasa jengkel kembali dan membahas kejelekannya. Sungguh, tulisan tersebut merupakan titik balik dimana saya harus berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak membahasnya lagi dan benar-benar ikhlas untuk memaafkannya.

Saya baru sadar bahwa memang memaafkan bukanlah hal yang mudah. Kita harus berhati-hati lain kali untuk tidak mengungkit suatu permasalahan kembali dan benar-benar memaafkan yang setulusnya. Semoga kita semua dapat melakukan hal dengan benar dan memaafkan seseorang sepenuhnya.

Cirebon, 02 Juli 2017
19:29
(--belajarlah memaafkan dengan setulusnya, and suddenly that miracle happens)

Senin, 10 April 2017

Melangkah, Lebih Pasti

Seorang teman membuat suatu postingan mengenai masa sekolah dulu.
Kembali, aku teringat apa yang telah kulalui saat itu.
Seperti layaknya remaja lainnya, masa sekolahku dipenuhi hal-hal tidak penting ala anak sekolahan
Terasa seru saat itu.
Terasa bodoh saat kini.

Berangan-angan ingin membantu teman.
Tetapi menegur perbuatan salah saja takut.
Apa daya aku hanya bisa tertawa bersama mereka seolah tidak terjadi apa-apa.

Terlalu banyak momen yang terjadi,
Terlalu banyak pemandangan yang terlihat,
Terlalu banyak pemikiran yang melintas,
Membuatku mempelajari satu hal.
Apa yang terjadi di masa sekolahku dulu tidak boleh terulang kembali.
Jika ada sesuatu yang salah, tegurlah.
Jika ingin membantu teman, bantulah.

Sungguh, aku harus bisa membenahi diri.
Tak usahlah kamu takut akan pemikiran orang lain.
Biarlah dirimu melangkah ke jalan baru.
Biarlah dirimu lebih berani mengungkapkan sesuatu.

Melangkahlah lebih pasti.
Agar kamu bisa menghidupi masa yang akan datang.

Bandung, 10 April 2017
21:56
(--terlalu banyak permainan yang terjadi di masa sekolah, ya, bodoh sekali)

Senin, 06 Februari 2017

Book Review: Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

Mulai: 2 Februari 2017
Selesai: 6 Februari 2017
Rating: 3.5/5

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Pengarang: Winna Efendi
Tebal: 360 halaman
Tanggal terbit: 23 Januari 2017

Liam Kendrick dan Rory Handitama memahami arti kehilangan. Liam pergi ke Sydney dengan dalih menggapai impian sembagai koki, walau alasan sebenarnya untuk menghindari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Di lain pihak, Rory sedang berusaha menata kehidupannya setelah suatu insiden membuatnya kehilangan orang-orang yang disayanginya, dan melepaskan impiannya sendiri sebagai pemusik. 

Keduanya paham arti berduka, meski belum mengerti caranya. Kesedihan dan kesepian mendekatkan Liam dan Rory, sampai akhirnya ada rasa lain yang menyusup. Saat perasaan sudah tak terelakkan, Liam dan Rory terjebak keraguan, dan rasa lama masih terlalu kuat untuk dilupakan. Dapatkah dua orang yang pernah mencintai orang lain dengan segenap hati menyisakan ruang bagi satu sama lain?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 29 Januari 2017

Book Review: Dublin by Yuli Pritania

Mulai: 28 Januari 2017
Selesai: 29 Januari 2017
Rating: 4/5

Penerbit: Grasindo
Pengarang: Yuli Pritania
Tebal: 232 halaman
Tanggal terbit: 29 Agustus 2016

Mia salah akan salah satu hal: Dublin tidak seindah yang dia bayangkan.

Dia berharap melihat pegunungan, padang rumut, tebing, kastel, dan jalanan yang dipagari dinding batu seperti yang muncul dalam film-film favoritnya. Yang dia dapatkan adalah gedung-gedung tua berwarna seragam dengan tampilan membosankan, pusat kota yang penuh turis, dan suhu musim semi yang membuat beku.

Lalu dia bertemu Ragga, lelaki dari masa lalunya, yang menunjukkan pada Mia sisi lain dari Dublin, menguak harta karun yang tersembunyi di balik bangunan-bangunannya yang tidak menarik. Dari Sungai Liffey, mereka menjelajahi museum-museum, berbagi sejarah tentang puluhan patung, mengunjungi taman-taman dengan rumpun bunga yang belum mekar, bergabung dengan keriuhan Temple Bar, melewati ratusan pub yang tersebar di seluruh bagian kota, mendaki salah satu tebing Inishmore di Aran Islands demi mengabadikan matahari terbit, hingga menyaksikan matahari tenggelam di Phoenix Park.

Saat kunjungannya menuju akhir, Mia merasa dirinya enggan kembali ke Indonesia. Ke rutinitasnya, skenario filmnya yang tak kunjung usai, dan tunangan yang menunggunya pulang. Sampai dia teringat, bahwa sedari awal, Ragga tidak pernah menjadi pilihan yang dia rencanakan untuk masa depan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------